Monday, July 7, 2014

Perang Topat, Simbol Kebersamaan Umat Islam dan Hindu di Lombok

Ini cerita tentang sebuah keseimbangan dan rasa syukur. Tentang rumusan harmonisasi hidup di sebuah kota berusia tiga abad lebih bernama Mataram, khususnya bagi pemeluk Hindu dan Muslim suku Sasak. Ada begitu banyak cara untuk mewujudkan hubungan sosial yang manis. Tapi, di ibu kota tanah Nusa Tenggara Barat ini, menghormati perbedaan keyakinan dengan bersikap ramah atau saling tegur sapa saja tidaklah cukup. Ada ritual rutin yang mesti dijalani. Ada prosesi yang tak pernah ditinggalkan. Tradisi yang justru menepikan segala omong-kosong tentang penghargaan terhadap perbedaan keyakinan. Sebab ini adalah jalan bukti merakit kebersamaan.


Setiap tahun tepat ketika purnama tiba, saat bulan memasuki hitungan keenam dalam kalender Hindu, atau ketujuh bagi penganut suku Sasak muslim. Ritual cermin kerukunan itu pun digelar. Masyakat di Mataram menyebut ritual itu perang-topat. Sesungguhnya perang topat adalah bagian dari upacara pujawali. Bagi suku Sasak, Pujawali adalah prosesi mengenang syekh Kyai Haji Abdul Malik, salah seorang penyiar agama Islam di pulau Lombok. Sedangkan bagi umat Hindu, pujawali adalah memuja Tuhan berulang kali setiap tahun. Dan di Mataram, kedua umat ini tak ingin berjalan sendiri-sendiri. Agama mereka boleh berbeda tapi adat telah melahirkan dan membuat mereka larut dalam kebersamaan menuju puncak perang esok hari.

Pura Lingsar. Pura ini berdiri pada pertengahan abad 18 atas gagasan Raja Anak Agung Ngurah dari kerajaan Karang Asem, Bali, yang ketika itu memerintah bagian barat Pulau Lombok. Di sekitar pura inilah seribu lebih umat Islam dan Hindu bakal terlibat atraksi perang topat atau aksi saling lempar dengan menggunakan ketupat. Perang kolosal yang sejatinya menjadi ajang pembauran antara dua agama besar di Pulau Lombok. Sebelum abad ke 16 Lombok berada dalam kekuasan Majapahit dengan dikirimkannya Maha Patih Gajah Mada. Pengaruh Jawa Islam muncul lewat dakwah Sunan Giri di pengujung abad 17. Hal ini sedikit banyak mempengaruhi perubahan agama suku Sasak yang sebelumnya Hindu menjadi Islam.

Gamelan

Gamelan bisa dikatakan sebagai alat musik yang hampir menyebar di seluruh wilayah kepulauan Indonesia. Gamelan berada di Pulau Jawa, Kalimantan, Lombok dan Bali. Gamelan di wilayah Lombok merupakan musik akulturasi kebudayaan Bali dan etnis sasak. Dalam musik gamelan ini sangat terlihat jelas pengaruh musik Bali pada warna musiknya. Hal ini disebabkan karena pada sejarahnya, salah satu prajurit Bali telah melakukan invasi ke daerah Lombik dalam rangka perluasan wilayah dan berhasil menguasai Lombok. Sehingga kebudayaannya pun berasimilasi dengan kebudayaan setempat.Salah satunya musik gamelan. Namun, menurut para pakar dari sasak sendiri, gamelan di Lombok dan di Bali memiliki beberapa perbedaan dalam nada dan sebagainya. Meskipun untuk orang awam, perbedaan ini mungkin tidak terlalu signifikan.
Berbeda dengan Gendang Beleq yang dimainkan sambil berdiri atau berjalan, gamelan dimainkan dengan duduk. Pada zaman dahulu, gamelan dimainkan hanya di keraton – keraton sebagai hiburan raja.

Instrumen yang ada di gamelan antara lain :
a. Saron berjumlah 6 buah
b. Kantil berjumlah 2 buah
c. Pugah berjumlah 1 buah
d. Barangan / Trompong berjumlah 11 buah
e. Calong berjumlah 2 buah
f. Rinciq berjumlah 1 buah
g. Pethuk berjumlah 1 buah
h. Gong berjumlah 2 buah
i. Jibraq berjumlah 2 buah
j. Seluring besar berjumlah 1 buah
k. Seruling kecil berjumlah 1 buah
l. Gendang berjumlah 2 buah

Gamelan, oleh masyarakat sasak dan pemainnya dianggap mempunyai nilai supranatural maupun magic. Oleh karena itu, tidak boleh dimainkan secara sembarangan. Sebelum dimainkan, alat – alat gamelan harus melewati prosesi tertentu. Di daerah ini ada kepercayaan yang mengharuskan untuk memberikan sesaji sebelum gamelan dimainkan. Sesaji ini disiapkan oleh yang punya hajat (pengundang gamelan). Prosesi ini membutuhkan uba rampe berupa ayam, kemenyan, minyak, beras, berbagai bunga, daun sirih dan sebagainya. Apabila salah satu kebutuhan sesaji itu tidak terpenuhi, gamelan tidak akan dibunyikan sampai dipenuhi. Menurut kepercayaan salah satu pemilik grup gamelan di desa Lendang Nangka ini, apabila sesaji tersebut tidak dipenuhi, akan ada beberapa gangguan bagi masyarakat maupun pemilik hajat.
Setelah diadakan prosesi, gamelan tidak boleh dimainkan sebelum ada yang memukul gong sebanyak 3 kali. Setelah gong dipukul, pemain gamelan akan mengambil posisinya masing – masing kemudian gamelan akan dimainkan dengan ditandai dengan dimainkannya pugah sebagai pembawa melodinya.

Prosesi dan aturan supranatural tersebut tidak hanya berlaku pada saat gamelan dimainkan, tetapi juga pada saat proses pembuatan gamelan. Pada saat pembutannya, sesaji juga harus diberikan dan diganti secara periodik sampai gamelan jadi. Selain itu, beberapa aturan juga berlaku dalam pembuatan gamelan. Salah satu contohnya adalah, gamelan yang belum selesai dibuat tidak boleh dilihat siapapun, terutama untuk kaum wanita. Bahkan, untuk wanita yang mengalami menstruasi, melihat gamelan pada saat pembuatan haram hukumnya atau sangat dilarang.

Bau Nyale, Mitos Yang Jadi Tradisi Budaya Lombok

Sebuah tradisi dalam suatu budaya memang tidak terpisahkan dengan mitos atau legenda yang mengiringi tradisi tersebut. Para leluhur mewarisi tradisi tersebut dari generasi ke generasi sehingga menjadi sebuah ritual yang dalam sebuah kebudayaan. Hal tersebut sama halnya terjadi pada masyarakat Pulau Lombok yang juga memiliki ritual tahunan yang menjadi sebuah festival yang dilatarbelakangi oleh legenda.
Adalah Festival Bau Nyale yang menjadi festival rutin masyarakat Pulau Lombok. Festival ini diadakan tepat di 16 titik pantai Selatan Lombok Tengah yang memanjang sejauh puluhan kilometer dari arah Timur hingga barat seperti di Pantai Kaliantan, Pantai Kuta atau Pantai Selong Belanak. Namun biasanya Pantai Seger di Desa Kuta, Kecamatan Pujut Lombok Tengah yang biasanya menjadi lokasi festival tahunan ini.
Festival Nyale (source: google.com)
Festival Bau Nyale memang festival yang berdasarkan pada sebuah legenda. Nyale sendiri berasal dari nama sejenis cacing laut yang biasa hidup di dasar laut atau lubang-lubang batu karang. Menurut cerita masyarakat setempat Nyale adalah jelmaan dari rambut Putri Mandalika.
Putri Mandalika sendiri adalah seorang putri raja di Pulau Lombok. Kecantikannya ternyata memukau banyak pangeran di Pulau Lombok sehingga banyak pinangan yang menghampiri dirinya. Karena bingung, Sang Putri memutuskan untuk menceburkan diri ke Pantai Selatan. Setelah kejadian tersebut, setiap tahun munculah Nyale yang dipercaya sebagai jelmaan dari rambut Putri Mandalika.

Ngawinang, Upacara Pernikahan Adat Lombok

Upacara perkawinan di Lombok Timur memiliki keunikan dibandingkan dengan upacara adat di tempat yang lainya, karena memiliki proses yang cukup panjang. Adat perkawinan lombok dikaitkan dengan upacara sorong serah aji krama. Seorang pemuda (terune) dapat memperoleh seorang istri berdasarkan adat dengan dua cara yaitu dengan soloh (meminang kepada keluarga si gadis). Yang kedua dengan adat merariq( melarikan si gadis), dimana pihak pria (terune) mengambil wanita (dedare) yang akan dinikahi ke rumah pihak pria tanpa sepengetahuan orang tuanya. Setelah salah satu cara sudah dilakukan, maka keluarga pria akan melakukan tata cara perkawinan sesuai dengan adat sasak. Proses ini kemudian akan diikuti dengan “Mesejati” dimana kepala dusun (keliang) akan memberitahukan kepada keluarga perempuan perihal dibawanya anak perempuan tersebut oleh seorang laki-laki yang tinggal di dusunnya.  Selang maksimal tiga hari kemudian, dilanjutkan dengan proses “beselabar” dimana kadus dan keluarga pihak laki-laki menemui keluarga pihak perempuan untuk meminta ijin melangsungkan upacara pernikahan. Pembicaraan adat istiadatnya meliputi aji kerama yang dalam proses ini dibicarakan tentang “uang perari” yang merupakan uang yang diminta oleh calon pengantin perempuan sebelum dilarikan. Jika belum ada permintaan “uang perari” sebelumnya, maka orang tua perempuan memintakan “uang perari” sekaligus “uang pisuke” yang dijadikan sebagai jaminan dan biaya penyelenggaraan pesta.

Jika semua permintaan keluarga pengantin perempuan telah disetujui pada saat “beselabar”, maka prosesi selanjutnya adalah “bait wali” dimana pihak pengantin laki-laki mengirimkan utusan dari pemuka agama untuk menyampaikan salam dari calon pengatin perempuan untuk orang tuanya agar datang untuk menikahkanya. Jika disetujui, maka orang tua perempuan akan datang sendiri dan keluarganya, namun jika tidak, maka orang tuanya menyerahkanya kepada utusan tersebut untuk menjadi wali nikah pengantin perempuan. Pada proses inilah kemudian dilangsungkan “ijab qabul”. Jika keseluruhan proses “bait wali” telah selesai, maka dilanjutkan dengan upacara “sorong serah”.

Rebana, Nyanyian Religi Lombok

Kebudayaan Lombok timur identik dengan budaya islam karena sebagian masyarakatnya beragama islam. Salah satu Sebuah bentuk alat musik akulturasi kebudayaan bangsa Arab dengan etnis Sasak. Musik jenis ini banyak sekali dijumpai di daerah Lombok. Seluruh alat (instrumen) orkestra ini terbuat dari kulit dan kayu. Tetapi dalam perkembangannya ada yang menambah alatnya dengan instrumen besi (rincik, kenceng).

Jumlah instrumen orkestra rebana ini tidak selalu sama. Ada yang hanya terdiri dari 12 buah, dan ada yang lainnya.

Nama – namanya adalah :
  1. Ceroncong atas
  2. Pengempat atas
  3. Panglima atas
  4. Pemotoq tengaq
  5. Penengaq tengaq
  6. Ceroncong tengaq
  7. Pengempat tengaq
  8. Panglima tengaq
  9. Pemotoq bawaq
  10. Penengaq bawaq
  11. Ceroncong bawaq
  12. Pengempat bawaq
  13. Penglima bawaq
  14. Gegendang
  15. Kekenceng

Musik rebana sering dipakai dalam mengiringi arak – arakan pengantin (nyongkol) yaitu arak – arakan pengantin pada waktu pesta perkawinan dimana penganten laki – laki dan penganten perempuan diarak dari rumah penganten laki ke rumah penganten perempuan. Selain itu juga digunakan untuk arakan khitanan. Pada arak – arakan khitanan, anak yang dikhitan akan dinaikkan dalam usungan berbentuk kuda yang disebut sebagai “jaran jorong”. Pada saat itulah, rebana mengiringi arak – arakan tersebut.

Rebana pada awalnya digunakan untuk mengiringi dzkir yang disebut “burdah” atau “kesidah”.

source: lendangnangkatour.blogspot.com

Gendang Beleq, Sakralisasi Adat Suku Sasak

Gendang Beleq merupakan salah satu kesenian tradisional yang telah sangat lama berkembang dan dikenal dengan baik oleh masyarakat suku Sasak. Dalam perjalanannya, kesenian tradisional Gendang Bedeq telah mengalami pasang surut perkembangan. Bahkan, dengan perkembangan yang sangat pesat pada akhir-akhir ini, kesenian tradisional Gendang Beleq telah tumbuh kembali menjadi kesenian yang sangat populer pada seluruh lapisan masyarakat suku Sasak. Kesenian Gendang Beleq telah hadir dengan fungsi  sebagai pelengkap kebudayaan serta menjadi salah satu sarana pengungkap makna-makna luhur kebudayaan. Pada sisi lain,  kesenian Gendang Beleq memiliki potensi yang sangat besar sebagai media pendidikan bagi masyarakat dan sebagi salah satu sumber devisa bagi negara yang dengan sendirinya dapat pula meningkatkan  taraf  hidup para seniman pendukungnya. Nama kesenian Gendang Beleq diambil dari salah satu alat musik yang digunakan yaitu dua buah gendang berukuran besar dan panjang. Bentuk kesenian tradisional Gendang Beleq  yang kita temukan dewasa ini merupakan perkembangan bentuk karena pengaruh kesenian Bali yaitu Tawaq-Tawaq. Perubahan bentuk kesenian ini pertama kali terjadi sekitar tahun 1800 M, ketika Anak Agung Gede Ngurang Karang Asem memerintah di gumi Sasak.
Sebelumnya, kesenian Gendang Beleq hanya terdiri atas sebuah Jidur (gendang besar yang berbentuk beduq), sebuah gong dan sebuah suling. Demikian besar pengaruh kebudayaan Bali pada waktu itu, sehingga peralatan kesenian ini berkembang sesuai dengan alat yang digunakan pada kesenian tawaq-tawaq. Akan tetapi, agar tidak meninggalkan nilai-nilai Islam, para seniman suku Sasak pada waktu itu tetap mempertahankan bentuk gendang besar yang menyerupai beduq yang digunakan di masjid. Selain itu, jumlah personil yang digunakan pun dibatasi pada jumlah 13 atau 17 orang pemain. Bilangan ini menunjukkan bilangan rakaat dalam shalat. Demikian pula dengan tata cara memainkan alat ini merupakan implementasi dari pelaksaan shalat berjamaah dan tuntunan hidup bermasyarakat dengan nilai-nilai keislaman.

Tari Gandrung, Simbol Budaya Masyarakat Sasak di Lombok

Tari Gandrung (sumber: melayuonline.com)
Tari Gandrung merupakan sebuah tarian yang kini berkembang di tiga daerah, yaitu Banyuwangi, Bali, dan Lombok. Meskipun memiliki kemiripan, Tari Gandrung ketiga daerah ini memiliki ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki di daerah yang lain. Demikian pula dengan yang terjadi pada Tari Gandrung yang ada di Lombok. Meskipun Lombok dan Bali memiliki kemiripan budaya, tetapi Tari Gandrung di Lombok memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dengan Tari Gandrung yang ada di Bali. Inilah ciri khas dari Lombok yang tidak dimiliki di Pulau Bali. ”Lombok sering digambarkan oleh orang luar sebagai versi kecil Bali. Tetapi penduduk Lombok sendiri akan mengatakan bahwa, `Anda akan melihat Bali di Lombok, tetapi tidak akan melihat Lombok di Bali`.” (Sepora Nawadi, 1995:14). Tulisan berikut ini secara khusus akan berbicara tentang Tari Gandrung yang berada di Lombok, Nusa Tenggara Barat beserta unsur simbolis yang tersaji dalam sebuah pertunjukkan Tari Gandrung.
Gandrung dalam pemahaman masyarakat Lombok, khususnya masyarakat Sasak adalah nama sebuah pertunjukan yang dilakukan seorang penari wanita yang diiringi seperangkat gamelan (sabarungan dalam istilah suku Sasak), puisi, dan nyanyian (dalam bahasa suku Sasak disebut lelakaq, sandaran) (R. Diyah Larasati, 1996:16). Pertunjukan Gandrung ini dilakukan dalam perayaan desa setelah masa panen padi. Gandrung menunjukkan suka cita dan harapan bersama masyarakat Sasak. Gandrung sekaligus juga merupakan ekspresi simbolis masyarakat Sasak di Lombok (R. Diyah Larasati, 1996:16).
Ekspresi simbolis lewat Gandrung bagi masyarakat Sasak diwujudkan melalui dunia makna yang secara signifikan berada dalam sistem ideasional yang juga terefleksikan dalam interaksi sosial. Ditambah lagi adanya artefak yang melegitimasi keberadaan pertunjukan itu di tengah-tengah para penikmatnya (R. Diyah Larasati, 1996:17). Menurut R. Diyah Larasati, sistem ideasional yang dimaksud adalah konteks berfikir serta gagasan-gagasan para pelaku pertunjukan Gandrung. Dalam perspektif ini, Gandrung dipakai sebagai media untuk melepaskan harapan dan suka cita. Alam yang terefleksi melalui harapan akan melimpahnya panen padi, berusaha untuk dapat dikuasai dengan sebuah keharmonisasian melalui ungkapan suka cita dalam seni pertunjukan ini. Dalam pemikiran ini, alam dan manusia sebagai elemen kebudayaan mampu membentuk suatu harmoni (R. Diyah Larasati, 1996:17).
Dilihat dari asal-usul, Tari Gandrung yang terdapat di Lombok kemungkinan bukan berasal dari kebudayaan asli Lombok (masyarakat Sasak). Hal ini bisa dilihat dari adanya Tari Gandrung yang juga terdapat di beberapa daerah lainnya, misalnya saja di Banyuwangi dan Bali. Beberapa budayawan atau peneliti akhirnya mencoba menelusuri dan menafsirkan asal-usul Tari Gandrung sehingga menjadi sebuah kebudayaan yang cukup sakral bagi masyarakat Sasak di Lombok.